![]() |
TAPANULI SELATAN | incomenews.id, Pemerintah terus mendorong percepatan penyelesaian Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru sebagai bagian strategis dalam memperkuat sistem kelistrikan Sumatera. Hal ini ditegaskan dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, ke lokasi proyek yang dikelola oleh PT North _Sumatera Hydro Energy (NSHE)_ bersama PT PLN (Persero) Group.
Kunjungan tersebut diisi dengan peninjauan langsung (_site visit_) ke area bendungan (DAM) dan _recovery tower_ guna melihat progres konstruksi serta langkah percepatan yang tengah dilakukan di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri ESDM, *Yuliot Tanjung*, menekankan pentingnya percepatan penyelesaian proyek di tengah keterbatasan ketersediaan energi primer lainnya. Ia menyampaikan bahwa PLTA Batang Toru memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem kelistrikan Sumatera saat mulai beroperasi.
“Dengan adanya keterbatasan energi primer lain, PLTA Batang Toru yang segera _on grid_ akan menjadi bagian penting dalam penguatan sistem kelistrikan Sumatera,” ujarnya.
Yuliot juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi, khususnya pada aspek regulasi, transmisi, serta dampak bencana hidrologi yang terjadi pada November 2025 lalu dan menyebabkan robohnya lima tower transmisi. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan percepatan pembangunan kembali infrastruktur serta koordinasi lintas sektor.
“Penyelesaian tidak hanya pada sisi pembangkit, tetapi juga mencakup transmisi, regulasi, dan penanganan dampak sosial. Karena itu, diperlukan langkah terpadu dan koordinasi lintas kementerian serta dukungan pemerintah daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa percepatan dilakukan melalui pendekatan paralel antara penyelesaian administratif dan pekerjaan teknis di lapangan, termasuk proses _testing_ pembangkit yang membutuhkan kesiapan penggenangan waduk. Secara singkat, Yuliot juga menekankan pentingnya akselerasi untuk mendukung pencapaian target bauran energi nasional tahun 2026.
Sementara itu, President Director NSHE, Li Xinlu, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dalam mendorong percepatan proyek, khususnya dalam penyelesaian berbagai aspek perizinan dan koordinasi lintas kementerian.
“NSHE mengucapkan penghargaan kepada Kementerian ESDM atas dukungan dalam percepatan penyelesaian ROW transmisi serta koordinasi lintas kementerian dalam percepatan perizinan,” ungkap Li Xinlu.
Dari sisi pelaksana proyek, Direktur Management Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN (Persero), Suroso Isnandar, menyampaikan bahwa progres pembangunan PLTA Batang Toru menunjukkan tren positif. Hingga Juli 2026, progres proyek telah mencapai 89,49% dengan kapasitas terpasang sebesar 510 MW (4 unit x 127,5 MW).
“Progres proyek saat ini termasuk cepat. Tantangan utama berada pada aspek regulasi dan perundangan. Namun demikian, proses penggenangan waduk berjalan terkendali,” jelas Suroso.
Ia menambahkan bahwa dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, target Commercial Operation Date (COD) pada Desember 2026 optimistis dapat tercapai, sekaligus memperkuat keandalan sistem kelistrikan di Sumatera.
General Manager PLN UIP SBU, Rizki Aftarianto, menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara PLN, pemerintah, dan pengembang proyek.
“Kunjungan Wakil Menteri ESDM merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah dalam memastikan proyek strategis ini berjalan sesuai target. PLN UIP SBU berkomitmen untuk terus mengawal percepatan, khususnya pada penyelesaian infrastruktur transmisi dan koordinasi lintas stakeholder,” ujar Rizki.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan PLTA Batang Toru tidak hanya akan menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga memperkuat sistem interkoneksi Sumatera secara keseluruhan.
Dengan progres yang terus meningkat dan dukungan lintas sektor, PLTA Batang Toru diharapkan segera beroperasi dan menjadi salah satu tulang punggung penyediaan energi bersih di Sumatera. Sebagai pembangkit *Energi Baru Terbarukan (EBT)* yang memanfaatkan tenaga air, PLTA Batang Toru merupakan pembangkit *ramah lingkungan dengan emisi karbon yang rendah*, sehingga berperan penting dalam mendukung transisi energi, pencapaian target bauran energi nasional, serta penyediaan listrik yang andal dan berkelanjutan bagi masyarakat. (WM01)
